Sore, para pekerja di dalam taman hiburan berkemas untuk menyelesaikan tugasnya pada hari yang sejuk dengan awan kelabu pertanda hujan sebentar lagi turun. Angin pantai yang sejatinya sudah berhembus kencang di hari terik, semakin terasa keras menerpa kulit.
"dingin banget, untung gua bawa jaket."
Orang yang diajak bicara cuma mengangguk singkat lalu berbalik untuk melanjutkan pekerjaanya mengemasi box barang yang selesai ia susun pada lemari pendingin. Gelagat tak wajar memang sudah muncul sejak siang tadi dan perempuan yang kita akan sebut sebagai Ria mengerutkan dahi sementara matanya menelaah lebih dekat pada punggung sahabatnya yang kotor.
"Feb! kotor tuh baju, dari mana lu? jangan aneh-aneh deh. Hari ini Abi sama Syaif balik ke kampung. Di kost bakal sepi, ga ada yang nolongin gua kalo lu kesurupan."
"Hus!" lantang berbunyi suara pria yang berasal dari senior mereka bernama Darwin.
"Jangan sembrono kalau bicara, mendung ini! Beresin aja semua cepet, nanti kelamaan keburu hujan." lanjutnya mengambil alih box dari tangan Feby yang masih tak bersuara.
Adzan maghrib berkumandang. Tepat pada saat itu langkah kaki mereka baru bisa membawa tubuh-tubuh yang lelah pada pintu keluar taman hiburan. Ria memberi isyarat pada Feby untuk menunggunya sementara ia menyiapkan motor untuk pulang bersama ke indekos yang mereka tinggali bersama.
"Aing langsung balik ya Feb, ambu udah telpon." teriak Abi dari atas motornya yang sudah membonceng Syaif. Feby yang diajak bicara tidak mengucapkan apapun dan hanya diam memandang kosong wajah Abi serta Syaif yang kebingungan. Namun, melihat awan semakin menggelap Abi enggan berlama-lama mencari tahu apa alasan dibalik sikap sahabatnya itu diapun memberi salam perpisahan pada Ria dengan anggukan yang dibalas dengan anggukan juga salam "waalaikum salam, hati-hati!"
---------
Usai mandi Ria bergegas menunaikan sholat agak terburu-buru, mengingat waktu maghrib hampir habis. Baru saja takbir ia bisikan, suara tawa menggelegar keluar dari mulut kecil sahabatnya.
Ria yang teguh tetap menunaikan ibadahnya meski dilanda gundah dan gelisah.
Tawa berganti raungan, kadang Feby menggumam, kadang juga ia berteriak panas dan sakit saat An-nas dilantunkan Ria dalam bisikan sholatnya. Bergetar sedikit tubuh Ria membayangkan kengerian yang hadir di dalam ruangan itu, namun ia berhasil menyelesaikan 3 rakaat dengan dzikir pendek setelahnya.
"Astaghfirullah!" teriaknya saat melihat tubuh Feby dalam posisi kepala di bawah dengan perut yang membusung ke langit-langit. Wajahnya yang dalam posisi terbalik itu memicing ke arah Ria dengan mulut menyeringai kejam.
"DIAM! berisik!"
"Allahu laa ilaaha illaa Huwal Hayyul Qoyyuum..."
Seraya ayat Kursi melantun dari bibir Ria, Feby semakin tidak karuan, sampai akhirnya Ria keluar kamar dan berteriak meminta pertolongan.
"A! Teh! tolongin ini si Feby kesurupan lagi!" ia ketuknya satu persatu daun pintu yang dapat ia raih sesegera mungkin.
Suara deru mesin motor pun terdengar dari lantai bawah dimana parkiran berada. "Tolongin!" lalu tak lama derap kaki cepat terdengar menaiki tangga. Muncul Abi, Syaif serta 2 lagi teman mereka Dea & Liu.
"Kenapa Ri?" kata Abi khawatir sambil menjatuhkan tas gendongnya. Syaif tanpa sepatah kata-pun masuk menerobos ke dalam kamar dimana Feby berada. Gaduh seketika. Mereka semua mengambil posisi untuk memegangi tubuh Feby yang memberontak, sementara didatangkan salah satu penghuni indekos yang dirasa paling bisa mengendalikan mahluk apapun yang masuk ke adalam tubuh teman mereka.
"hahaha! kamu cari Feby? tuh dipintu, sekarang gantian ini tubuh punya saya!"