Jumat, 09 Agustus 2024

My dream job VS My current career.


When I was a child, I felt that my parents did not pressure me much to become someone that they wanted me to be. They tended to let me choose whatever I felt was best for me. That’s why I have lots of dream jobs back then including becoming a president or a minister of culture. In reality, I chose a very different career path. I entered a vocational high school with a major in fashion. After graduated, I realized that fashion was not my passion, and I decided to work in the food and beverage industry to be more specific I work in a restaurant. From what I have seen, successful people in this industry have long-term experience work and at that time, I never thought about continuing my education. 

In 2020, the world was hit by the COVID-19 pandemic. The place where I worked lasted only 8 months before going bankrupt, and I lost my job. I tried to start a business by selling my cooking using the knowledge that I had, but it was not enough because of my lack of knowledge to manage finances. Eventually, I got another job at a Korean restaurant due to my Korean language skills, not my cooking skills. Since then, I began to realize that knowledge in just one industry was not enough. Last year, after watching many motivational videos from students studying in Korea and abroad, I started to think to continue my education and enter a college. By coincidence, a friend was looking for (a/some) student candidates to join his university and invited me to join Esa Unggul University that offers evening classes because I am currently working. As a result, I ended up studying there although being a student and a worker at the same time has made me very busy with little rest, however I’m happy to be doing this now. 


Akankah aku dan kamu menjadi kita?

 Simphoni dari Negri Matahari Terbit.

Hangatnya cahaya mentari yang mengelus lembut kulit di siang itu bagaikan isyarat bahwa hari ini misiku untuk menyelesaikan 7 tahun penantian cinta lanjut atau usai.

Meskipun, aku siap untuk menerima penolakan, tetapi hati ini masih terbuka lebar dan mengharap sambutan lembut dari sosok yang terus aku nantikan masuk ke dalam kelas. Sambil menunggu bus kuning datang menjemputku ke sekolah, kuping yang disumpali earphone ini asik menikmati lagu-lagu cinta.

"... bagaikan ekor malaikat yang nakal, kabur dengan lembut tak tahu kemana. 

Matahari yang kudambakan terlalu silau, karenanya aku berpura-pura tidak suka dan akupun menjadi bersikap dingin.

Aku memandang.."

Itu dia dengan jaket hoodie hitam miliknya yang sealu disampirkan pada salah satu tali ranselnya.

".. dari kejauhan, cinta tak berbalas hanya milikku."

Persetan! aku harus yakin hari ini milikku!

"Peter!" teriakku agak memekik saat ia hampir masuk ke bus yang baru saja datang dan Aku berhasil membalikan punggungnya untuk menemukan keberadaanku.

Dia tersenyum, oh! betapa lucunya, tetapi aku harus bersikap wajar sebelum misiku dilaksanakan. Dia membiarkanku masuk bus lebih dulu, memilih bangku lebih dulu agar dia duduk tepat di sisi luar dari bangku kami.

Seperti biasa, dia bisu, diam tidak mengatakan sepatah katapun jika aku tidak memulainya. Orang-orang heran dengan ketahananku menyukai patung ini, tapi entahlah. Apakah siapapun bisa menjelaskan cinta dengan timbangan rasa yang sama? Aku rasa tidak. Bagiku tomat asam dan tidak enak, tetapi temanku bersedia meneguk tumbukan tomat dan jeruk yang asam setiap pagi untuk sarapan. See? everyone has different taste bro, duh!


Hantu taman hiburan di Jakarta (based on true story)

Sore, para pekerja di dalam taman hiburan berkemas untuk menyelesaikan tugasnya pada hari yang sejuk dengan awan kelabu pertanda hujan sebentar lagi turun. Angin pantai yang sejatinya sudah berhembus kencang di hari terik, semakin terasa keras menerpa kulit.

"dingin banget, untung gua bawa jaket."

Orang yang diajak bicara cuma mengangguk singkat lalu berbalik untuk melanjutkan pekerjaanya mengemasi box barang yang selesai ia susun pada lemari pendingin. Gelagat tak wajar memang sudah muncul sejak siang tadi dan perempuan yang kita akan sebut sebagai Ria mengerutkan dahi sementara matanya menelaah lebih dekat pada punggung sahabatnya yang kotor.

"Feb! kotor tuh baju, dari mana lu? jangan aneh-aneh deh. Hari ini Abi sama Syaif balik ke kampung. Di kost bakal sepi, ga ada yang nolongin gua kalo lu kesurupan."

"Hus!" lantang berbunyi suara pria yang berasal dari senior mereka bernama Darwin.

"Jangan sembrono kalau bicara, mendung ini! Beresin aja semua cepet, nanti kelamaan keburu hujan." lanjutnya mengambil alih box dari tangan Feby yang masih tak bersuara.

Adzan maghrib berkumandang. Tepat pada saat itu langkah kaki mereka baru bisa membawa tubuh-tubuh yang lelah pada pintu keluar taman hiburan. Ria memberi isyarat pada Feby untuk menunggunya sementara ia menyiapkan motor untuk pulang bersama ke indekos yang mereka tinggali bersama.

"Aing langsung balik ya Feb, ambu udah telpon." teriak Abi dari atas motornya yang sudah membonceng Syaif. Feby yang diajak bicara tidak mengucapkan apapun dan hanya diam memandang kosong wajah Abi serta Syaif yang kebingungan. Namun, melihat awan semakin menggelap Abi enggan berlama-lama mencari tahu apa alasan dibalik sikap sahabatnya itu diapun memberi salam perpisahan pada Ria dengan anggukan yang dibalas dengan anggukan juga salam "waalaikum salam, hati-hati!"

---------

Usai mandi Ria bergegas menunaikan sholat agak terburu-buru, mengingat waktu maghrib hampir habis. Baru saja takbir ia bisikan, suara tawa menggelegar keluar dari mulut kecil sahabatnya.

Ria yang teguh tetap menunaikan ibadahnya meski dilanda gundah dan gelisah.

Tawa berganti raungan, kadang Feby menggumam, kadang juga ia berteriak panas dan sakit saat An-nas dilantunkan Ria dalam bisikan sholatnya. Bergetar sedikit tubuh Ria membayangkan kengerian yang hadir di dalam ruangan itu, namun ia berhasil menyelesaikan 3 rakaat dengan dzikir pendek setelahnya.

"Astaghfirullah!" teriaknya saat melihat tubuh Feby dalam posisi kepala di bawah dengan perut yang membusung ke langit-langit. Wajahnya yang dalam posisi terbalik itu memicing ke arah Ria dengan mulut menyeringai kejam.

"DIAM! berisik!"

"Allahu laa ilaaha illaa Huwal Hayyul Qoyyuum..."

Seraya ayat Kursi melantun dari bibir Ria, Feby semakin tidak karuan, sampai akhirnya Ria keluar kamar dan berteriak meminta pertolongan.

"A! Teh! tolongin ini si Feby kesurupan lagi!" ia ketuknya satu persatu daun pintu yang dapat ia raih sesegera mungkin.

Suara deru mesin motor pun terdengar dari lantai bawah dimana parkiran berada. "Tolongin!" lalu tak lama derap kaki cepat terdengar menaiki tangga. Muncul Abi, Syaif serta 2 lagi teman mereka Dea & Liu.

"Kenapa Ri?" kata Abi khawatir sambil menjatuhkan tas gendongnya. Syaif tanpa sepatah kata-pun masuk menerobos ke dalam kamar dimana Feby berada. Gaduh seketika. Mereka semua mengambil posisi untuk memegangi tubuh Feby yang memberontak, sementara didatangkan salah satu penghuni indekos yang dirasa paling bisa mengendalikan mahluk apapun yang masuk ke adalam tubuh teman mereka.

"hahaha! kamu cari Feby? tuh dipintu, sekarang gantian ini tubuh punya saya!"

My dream job VS My current career.

When I was a child, I felt that my parents did not pressure me much to become someone that they wanted me to be. They tended to let me choos...