Simphoni dari Negri Matahari Terbit.
Hangatnya cahaya mentari yang mengelus lembut kulit di siang itu bagaikan isyarat bahwa hari ini misiku untuk menyelesaikan 7 tahun penantian cinta lanjut atau usai.
Meskipun, aku siap untuk menerima penolakan, tetapi hati ini masih terbuka lebar dan mengharap sambutan lembut dari sosok yang terus aku nantikan masuk ke dalam kelas. Sambil menunggu bus kuning datang menjemputku ke sekolah, kuping yang disumpali earphone ini asik menikmati lagu-lagu cinta.
"... bagaikan ekor malaikat yang nakal, kabur dengan lembut tak tahu kemana.
Matahari yang kudambakan terlalu silau, karenanya aku berpura-pura tidak suka dan akupun menjadi bersikap dingin.
Aku memandang.."
Itu dia dengan jaket hoodie hitam miliknya yang sealu disampirkan pada salah satu tali ranselnya.
".. dari kejauhan, cinta tak berbalas hanya milikku."
Persetan! aku harus yakin hari ini milikku!
"Peter!" teriakku agak memekik saat ia hampir masuk ke bus yang baru saja datang dan Aku berhasil membalikan punggungnya untuk menemukan keberadaanku.
Dia tersenyum, oh! betapa lucunya, tetapi aku harus bersikap wajar sebelum misiku dilaksanakan. Dia membiarkanku masuk bus lebih dulu, memilih bangku lebih dulu agar dia duduk tepat di sisi luar dari bangku kami.
Seperti biasa, dia bisu, diam tidak mengatakan sepatah katapun jika aku tidak memulainya. Orang-orang heran dengan ketahananku menyukai patung ini, tapi entahlah. Apakah siapapun bisa menjelaskan cinta dengan timbangan rasa yang sama? Aku rasa tidak. Bagiku tomat asam dan tidak enak, tetapi temanku bersedia meneguk tumbukan tomat dan jeruk yang asam setiap pagi untuk sarapan. See? everyone has different taste bro, duh!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar